Sumatera Barat,JSNews
Sabtu (1/11/2025)
Di balik kekayaan budaya Minangkabau yang terkenal dengan rumah gadang dan adat matrilinealnya, tersimpan kisah panjang tentang salah satu suku tertua: Suku Koto. Hingga kini, nama Koto masih banyak dijumpai di berbagai nagari di Sumatera Barat — tanda bahwa jejak sejarahnya masih hidup di tengah masyarakat.
Menurut cerita yang turun-temurun dalam Tambo Minangkabau, Suku Koto bersama Suku Piliang adalah dua suku pertama yang muncul di ranah darek — wilayah asal masyarakat Minang di Luhak Nan Tigo: Tanah Datar, Agam, dan Limapuluh Kota.
“Suku Koto berasal dari garis keturunan Datuak Katumanggungan, sedangkan Suku Piliang dari Datuak Parpatiah Nan Sabatang,” jelas Dr. Hendra Maizul, sejarawan budaya Minangkabau, Jumat (1/11). “Dua tokoh ini menjadi pelopor sistem adat yang kita kenal hingga sekarang: Koto Piliang dan Bodi Caniago.”
Makna di Balik Nama “Koto”
Secara etimologis, kata Koto berasal dari istilah kuno kuto atau kuta, yang berarti benteng atau perkampungan yang dilindungi pagar bambu. Makna ini mencerminkan kehidupan masyarakat masa lampau yang hidup berkelompok, menjaga keamanan, dan saling melindungi.
Dalam kehidupan sosial Minangkabau yang matrilineal, garis keturunan ditarik dari ibu. Namun, keputusan adat dan urusan kaum tetap dijalankan oleh penghulu laki-laki bergelar Datuak, yang dipilih melalui musyawarah keluarga besar. Tradisi ini menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dan demokrasi dalam adat Minang.
Dari Pagaruyung ke Negeri Sembilan
Seiring berjalannya waktu, Suku Koto menyebar luas dari daerah asalnya di Pagaruyung dan sekitarnya ke berbagai wilayah Sumatera Barat. Bahkan, sebagian masyarakat Koto turut berperan dalam perantauan besar ke Semenanjung Malaya, yang kini dikenal sebagai Negeri Sembilan, Malaysia.
“Di mana pun berada, orang Suku Koto biasanya cepat dikenal karena tetap memegang nilai-nilai adat dan sopan santun,” kata Yusril Datuak Rajo Nan Putiah, tokoh adat dari Batusangkar. “Itulah warisan leluhur yang tidak boleh hilang.”
Nilai Adat yang Tetap Dijaga
Hingga kini, Suku Koto masih memegang teguh falsafah adat Minangkabau: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Artinya, adat berlandaskan agama, dan agama menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai itu tetap diajarkan dari generasi ke generasi, bahkan di tengah arus modernisasi.
“Kami bangga menjadi bagian dari Suku Koto,” ujar Rizka Yuliana, mahasiswa asal Tanah Datar. “Bagi kami, mengenal asal usul bukan sekadar sejarah, tapi juga identitas dan tanggung jawab untuk melestarikan adat.”
Jejak yang Tak Pernah Pudar
Meski zaman terus berubah, Suku Koto tetap menjadi bagian penting dari jati diri masyarakat Minangkabau.
Dari rumah gadang di Tanah Datar hingga perantauan di negeri seberang, semangat kebersamaan dan kebanggaan sebagai urang Koto masih terjaga erat hingga kini.
Tag: #Minangkabau #SukuKoto #BudayaSumateraBarat #SejarahMinang #Jalurselebritinews.com
RAHMAT KOTO
joSSer ( Wakil Pimred )
