Jakarta – JSNews – Jumat, 23 Januari 2026.Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta *KH. Lutfi Hakim MA* menekankan langkah prioritas mengatasi banjir Jakarta adalah mengkoreksi kebijakan tata ruang yang dapat merusak daerah resapan air.

Menurutnya, “hujan ekstrem saat ini bukan lagi menjadi siklus lima tahunan, seperti pemilu melainkan bisa terjadi kapan saja”.

Maka pemerintah perlu fokus pada solusi jangka panjang bukan langkah yg bersifat darurat atau sementara, karena penyebab banjir selain faktor alam juga terdapat ‘Tata Ruang ‘ secara optimal.

Maka langkah yang harus menjadi prioritas adalah “Mengkoreksi kebijakan tata ruang terutama yang dapat merusak daerah resapan air”.

Jadi, jangan salahkan hujan, sebab hujan seharusnya menjadi tantangan dan mendesak pembangunan dengan anggaran yang ada untuk menampung atau mengalirkan air dengan baik, Oleh karena itu sumur resapan dan pembuatan waduk atau embung dapat segera dikerjakan secara maksimal, “ujarnya.

“Terkait PJJ, sejauh ini sekedar untuk menjaga keselamatan siswa boleh dibilang cukup efektif, asalkan bukan untuk membiasakan warganya dengan kegagalan kebijakan terkait ruang dan lingkungan.

Masyarakat tidak boleh melemparkan kesalahan pada perbuatan maksiat seseorang atau sekelompok orang.

“Dalam perspektif Aswaja, kita harus melihat kondisi cuaca yang ekstrem dan banjir sebagai bagian dari takdir Allah yang sudah ditetapkan-Nya, “katanya.

Beliau *KH. Lutfi Hakim MA*, juga menegaskan hujan dapat membasahi siapa saja, baik yang taat maupun yang bermaksiat.

“Tanpa harus melemparkan kesalahan pada perbuatan maksiat seseorang atau sekelompok orang. Sebab hujan dapat membasahi siapa saja, baik yang taat atau yang bermaksiat.

Pentingnya upaya pencegahan dan antisipasi sebagai bagian dari ikhtiar orang beriman.

Meski demikian, dalam budaya kita ada pepatah sedia payung sebelum hujan, yang tentunya harus mendahulukan upaya pencegahan dan antisipasi sebelum suatu peristiwa terjadi sebagai bagian dari ikhtiar kita sebagai orang beriman.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau “Perusahaan di wilayah Jakarta untuk menerapkan sistem work from home (WFH) atau kerja fleksibel dari rumah menyusul kondisi cuaca ekstrem yang memicu banjir di sejumlah titik Jakarta”.

Himbauan tersebut tertuang dalam *Surat Edaran Dinas Nakertransgi Provinsi DKI Jakarta* Nomor e-0001/SE/2026 tentang “Pelaksanaan Sistem Kerja Fleksibel dan WFH karena Cuaca Ekstrem” tertanggal 22 Januari 2026 sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kesehatan dan keselamatan pekerja.

Komunitas Media Betawi

Oleh : Meirsa Sawitri Hayyusari

Bandung –JSNews

Islam memandang kesehatan sebagai bagian penting dari kehidupan manusia yang tidak hanya terbatas pada kondisi fisik, tetapi juga mencakup keseimbangan mental, spiritual, sosial, dan intelektual. Konsep ini dinilai semakin relevan di tengah tantangan kesehatan modern yang kian kompleks, mulai dari penyakit degeneratif hingga meningkatnya gangguan kesehatan mental.

Dalam ajaran Islam, kesehatan merupakan hak asasi sekaligus amanah dari Allah SWT yang harus dijaga. Hal ini ditegaskan dalam berbagai sumber utama Islam, Al-Qur’an dan Hadis, yang menjadikan kesehatan sebagai fondasi utama bagi manusia dalam menjalankan perannya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.

Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa kesehatan adalah salah satu nikmat besar yang sering diabaikan. “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan sering kali baru muncul setelah nikmat tersebut hilang.

Sehat Tidak Sekadar Bebas Penyakit

Dalam perspektif Islam, sehat tidak hanya berarti terbebas dari penyakit. Secara etimologis, kata sehat dalam bahasa Arab bermakna baik dan berfungsinya seluruh anggota tubuh, sementara afiat diartikan sebagai perlindungan Allah dari berbagai keburukan. Dengan demikian, kesehatan mencakup berfungsinya seluruh potensi manusia sesuai tujuan penciptaannya.

Islam menempatkan kesehatan sebagai bagian dari tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah), khususnya dalam aspek hifẓ al-nafs atau menjaga jiwa. Jiwa dalam pandangan Islam mencakup aspek fisik, mental, dan sosial yang saling berkaitan.

Lima Dimensi Kesehatan dalam Islam

Konsep kesehatan Islam bersifat holistik dan mencakup lima dimensi utama. Pertama, dimensi fisik atau jasmani, yang menekankan pentingnya menjaga tubuh melalui konsumsi makanan halal dan thayyib, kebersihan, olahraga, serta istirahat yang cukup. Al-Qur’an melarang perilaku yang merusak tubuh, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 195 yang melarang manusia menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.

Kedua, dimensi mental atau emosional. Islam mengajarkan pengelolaan emosi melalui doa, zikir, dan tawakal agar manusia mencapai ketenangan batin (nafs al-muṭma’innah). Praktik spiritual ini terbukti berperan besar dalam menjaga stabilitas psikologis.

Ketiga, dimensi spiritual, yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa ketenangan hati hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah (QS. Ar-Ra‘d: 28). Kesehatan spiritual dipandang sebagai inti yang memengaruhi dimensi kesehatan lainnya.

Keempat, dimensi sosial. Islam memandang manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan hubungan harmonis, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Prinsip ukhuwah, tolong-menolong, dan keadilan sosial menjadi dasar terciptanya kesehatan sosial.

Kelima, dimensi intelektual. Islam menempatkan akal sebagai anugerah besar yang menjadi dasar pengambilan keputusan rasional dan etis, termasuk dalam menjaga kesehatan. Pemanfaatan akal secara benar mendorong pola hidup sehat yang ilmiah dan bertanggung jawab.

Relevansi di Era Modern

Di era modern, perubahan gaya hidup memicu berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental. Dalam kondisi ini, nilai-nilai Islam dinilai tetap relevan sebagai pedoman membangun pola hidup sehat yang seimbang. Islam menganjurkan moderasi dalam makan dan minum, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-A‘raf ayat 31, serta pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari iman.

Selain itu, Islam juga menekankan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Al-Qur’an menyebut malam sebagai waktu istirahat agar manusia dapat memulihkan tenaga dan menjaga kesehatan fisik serta mental (QS. An-Naba: 9–11).

Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Ibadah

Menjaga kesehatan dalam Islam bukan sekadar upaya individual, melainkan bagian dari ibadah dan bentuk syukur atas nikmat Allah SWT. Kesadaran ini diharapkan dapat dimulai dari diri sendiri, lalu diterapkan dalam keluarga dan masyarakat.

Dengan tubuh yang sehat dan jiwa yang tenang, manusia diharapkan mampu menjalankan perannya secara optimal serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang kuat, produktif, dan berkeadaban. Inilah makna sejati kesehatan dalam Islam—sehat yang menuntun manusia pada kebaikan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Jakarta | JSNews


Jumat, 2 Januari 2026
Jalan Igusti Ngurah Rai RT.01/015 Kp.Bulak Klender Jakarta Timur
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia tidak terlepas dari berbagai ujian dan ketentuan Allah SWT. Tidak jarang harapan belum terwujud, doa terasa belum terjawab, dan musibah datang di luar perkiraan. Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi semua itu dengan sikap berlapang dada dan penuh keimanan.
Berlapang dada dalam menerima ketentuan Allah SWT merupakan wujud keimanan seorang hamba kepada Rabb-nya. Sikap ini bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan keyakinan bahwa setiap takdir yang ditetapkan Allah SWT pasti mengandung hikmah dan kebaikan, meskipun belum dapat dipahami pada saat ini.
Dalam Al-Qur’an dan hadits, umat Islam diajarkan untuk tidak larut dalam penyesalan terhadap masa lalu. Rasulullah SAW mengingatkan agar seorang mukmin tidak mengucapkan kata “seandainya”, melainkan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT. Dari keyakinan tersebut lahirlah sikap sabar, ikhlas, dan syukur yang menenangkan hati.
Sikap berlapang dada juga menjadi benteng keimanan saat menghadapi musibah. Ujian hidup tidak lagi dipandang sebagai beban semata, tetapi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan hati yang tenang dan tawakal, seorang hamba akan mampu menjalani kehidupan dengan lebih ringan dan penuh makna.
Melalui sikap ini, umat Islam diharapkan senantiasa menjaga keimanan, menjauhkan diri dari keluh kesah, serta terus berusaha meraih ridha Allah SWT dalam setiap keadaan.
Semoga Allah SWT senantiasa melapangkan dada kita, menguatkan iman, serta membimbing kita untuk selalu ridha dan bersyukur atas setiap ketentuan-Nya.
Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.

joSSer
(Wakil Pemimpin Redaksi)

Bekasi-JSNews (16/12/2025)


Di tengah hiruk-pikuk urbanisasi Bekasi yang tak kenal lelah, di mana gedung-gedung pencakar langit berdiri berdampingan dengan pabrik-pabrik raksasa, sebuah ritme berbeda masih bergema kuat, azan subuh yang menggema dari masjid-masjid kecil, suara murottal dari majelis taklim, dan barisan santri berjubah putih yang melangkah tegap menuju pengajian. Bekasi, kota penyangga Jakarta dengan pertumbuhan penduduk mencapai ribuan jiwa setiap tahun, menjadi saksi bagaimana industrialisasi pesat bertemu dengan keteguhan iman. Masyarakatnya yang heterogeny campuran migran dari berbagai daerah tetap mempertahankan napas religius melalui tradisi seperti tahlilan, maulid, dan marhabanan, di mana santri bukan sekadar pelajar agama, melainkan penjaga obor nilai keislaman di lautan modernitas.

Pesantren di Bekasi, dengan budaya santri yang kental akan kesederhanaan, disiplin, dan adab, menjadi benteng tak terlihat yang membentuk identitas budaya lokal. Saat santri berbaur dengan warga urban, nilai-nilai mereka meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, dari pembinaan remaja di pinggir jalan hingga pengajian keliling di perumahan elit. Namun, di balik kontribusi strategis ini sebagai agen moral, kultural, dan sosial, peran santri sering terlupakan dalam diskursus akademik yang lebih sibuk membahas urbanisasi atau budaya Betawi. Penelitian ini hadir untuk mengungkap lapisan tersebut, menawarkan wawasan komprehensif tentang bagaimana santri tidak hanya bertahan, tapi justru memperkaya kain budaya Bekasi di era perubahan yang tak terelakkan.

Santri Sebagai Penguat Tradisi Keagamaan Masyarakat Bekasi
Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa santri memiliki peran penting dalam menjaga tradisi keagamaan masyarakat Bekasi yang selama ini dikenal

dengan karakter religius dan dekat dengan tradisi Betawi-Islam. Kehadiran santri dari pesantren lokal maupun santri yang kembali ke rumah masing-masing memberikan kontribusi pada berbagai kegiatan keagamaan masyarakat, seperti pengajian rutin, tahlilan, majelis taklim, peringatan Maulid Nabi, dan marhabanan.
Budaya santri yang sarat nilai adab, kesederhanaan, serta kedisiplinan dalam ibadah menjadi teladan bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai tersebut membantu mempertahankan atmosfer religius di tengah kehidupan Bekasi yang semakin modern dan urban. Di beberapa wilayah Bekasi, santri juga berperan dalam menghidupkan tradisi membaca kitab kuning dan kegiatan pendidikan nonformal, sehingga tradisi intelektual keislaman tetap terpelihara.

Kesimpulan
Santri memiliki peran penting dalam membentuk budaya masyarakat Bekasi dengan membawa nilai-nilai religius, moral, dan tradisi pesantren ke dalam kehidupan sosial. Melalui keterlibatan dalam pengajian, pendidikan agama, kegiatan keagamaan lokal, serta keteladanan akhlak, santri turut menjaga identitas keislaman masyarakat di tengah arus urbanisasi yang pesat. Kehadiran mereka membantu mempertahankan tradisi keagamaan lokal dan memperkuat literasi keislaman di berbagai lapisan masyarakat.

Selain menjadi penjaga tradisi, santri juga berperan sebagai penghubung antara budaya lokal Bekasi dengan nilai-nilai Islam, sehingga tercipta harmoni antara adat setempat dan ajaran agama. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, santri tetap memiliki peluang besar untuk beradaptasi melalui kegiatan sosial dan pemanfaatan media digital. Secara keseluruhan, budaya santri tetap relevan dan berpengaruh dalam menjaga karakter religius serta kesinambungan budaya masyarakat Bekasi.

Penulis:
Salma Aliya Munisa
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Sumatera Barat,JSNews



Sabtu (1/11/2025)

Di balik kekayaan budaya Minangkabau yang terkenal dengan rumah gadang dan adat matrilinealnya, tersimpan kisah panjang tentang salah satu suku tertua: Suku Koto. Hingga kini, nama Koto masih banyak dijumpai di berbagai nagari di Sumatera Barat — tanda bahwa jejak sejarahnya masih hidup di tengah masyarakat.

Menurut cerita yang turun-temurun dalam Tambo Minangkabau, Suku Koto bersama Suku Piliang adalah dua suku pertama yang muncul di ranah darek — wilayah asal masyarakat Minang di Luhak Nan Tigo: Tanah Datar, Agam, dan Limapuluh Kota.

“Suku Koto berasal dari garis keturunan Datuak Katumanggungan, sedangkan Suku Piliang dari Datuak Parpatiah Nan Sabatang,” jelas Dr. Hendra Maizul, sejarawan budaya Minangkabau, Jumat (1/11). “Dua tokoh ini menjadi pelopor sistem adat yang kita kenal hingga sekarang: Koto Piliang dan Bodi Caniago.”

Makna di Balik Nama “Koto”

Secara etimologis, kata Koto berasal dari istilah kuno kuto atau kuta, yang berarti benteng atau perkampungan yang dilindungi pagar bambu. Makna ini mencerminkan kehidupan masyarakat masa lampau yang hidup berkelompok, menjaga keamanan, dan saling melindungi.

Dalam kehidupan sosial Minangkabau yang matrilineal, garis keturunan ditarik dari ibu. Namun, keputusan adat dan urusan kaum tetap dijalankan oleh penghulu laki-laki bergelar Datuak, yang dipilih melalui musyawarah keluarga besar. Tradisi ini menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dan demokrasi dalam adat Minang.

Dari Pagaruyung ke Negeri Sembilan

Seiring berjalannya waktu, Suku Koto menyebar luas dari daerah asalnya di Pagaruyung dan sekitarnya ke berbagai wilayah Sumatera Barat. Bahkan, sebagian masyarakat Koto turut berperan dalam perantauan besar ke Semenanjung Malaya, yang kini dikenal sebagai Negeri Sembilan, Malaysia.

“Di mana pun berada, orang Suku Koto biasanya cepat dikenal karena tetap memegang nilai-nilai adat dan sopan santun,” kata Yusril Datuak Rajo Nan Putiah, tokoh adat dari Batusangkar. “Itulah warisan leluhur yang tidak boleh hilang.”

Nilai Adat yang Tetap Dijaga

Hingga kini, Suku Koto masih memegang teguh falsafah adat Minangkabau: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Artinya, adat berlandaskan agama, dan agama menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai itu tetap diajarkan dari generasi ke generasi, bahkan di tengah arus modernisasi.

“Kami bangga menjadi bagian dari Suku Koto,” ujar Rizka Yuliana, mahasiswa asal Tanah Datar. “Bagi kami, mengenal asal usul bukan sekadar sejarah, tapi juga identitas dan tanggung jawab untuk melestarikan adat.”

Jejak yang Tak Pernah Pudar

Meski zaman terus berubah, Suku Koto tetap menjadi bagian penting dari jati diri masyarakat Minangkabau.
Dari rumah gadang di Tanah Datar hingga perantauan di negeri seberang, semangat kebersamaan dan kebanggaan sebagai urang Koto masih terjaga erat hingga kini.

Tag: #Minangkabau #SukuKoto #BudayaSumateraBarat #SejarahMinang #Jalurselebritinews.com

RAHMAT KOTO
joSSer ( Wakil Pimred )

JAKARTA –JSNews

Sanggar Santanah resmi merilis lagu ” Mars Santanah ” yang diciptakan oleh pendiri sekaligus Ketua Sanggar Santanah, Aloysius Hieng. Lagu ini diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus semangat pelestarian budaya tradisional Indonesia.

Dalam keterangan kepada media, Theresia Yunita Ercilia atau yang akrab disapa Lia, menjelaskan bahwa kehadiran Mars Santanah memiliki makna mendalam bagi para penikmat musik tradisional.

“Lagu ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk lebih mencintai serta menjaga adat dan budaya Nusantara,” ujar Lia, Jumat (17/10/2025).

Lebih lanjut, Lia memaparkan filosofi di balik logo Sanggar Santanah yang memiliki tiga makna utama, yakni kesederhanaan, semangat, dan cita-cita besar. “Filosofi ini kami bawa juga dalam musik dan aktivitas seni di sanggar,” tambahnya.

Dalam Mars Santanah, instrumen yang digunakan merupakan alat musik tradisional kampung seperti ukulele, gendang, gambus, benyol, lektor, suling, dan giring-giring. Kombinasi instrumen tersebut menghadirkan nuansa khas Nusantara yang kental dan autentik.

Sebagai bagian dari generasi muda yang bergabung di Sanggar Santanah, Lia menyampaikan apresiasinya atas kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi dalam pelestarian budaya.

“Harapan saya, kehadiran Sanggar Santanah bisa menjadi pemantik semangat bagi generasi muda agar terus mencintai dan mewariskan budaya, tidak hanya di lingkup lokal, tetapi juga hingga ke kancah internasional,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Aloysius Hieng hadir bersama putranya Kalebtus Hieng dan keluarga. Ia berpesan kepada Lia, yang juga merupakan keponakannya sekaligus pelantun lagu Mars Santanah, agar selalu mengingat akar budaya dan sejarah bangsa.

“Jangan pernah melupakan sejarah dan adat budaya warisan para leluhur, karena adat dan budaya adalah jati diri serta identitas bangsa,” ujar Aloysius Hieng.

Melalui Mars Santanah, Sanggar Santanah berharap dapat terus menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya tradisional di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Jakarta – JSNews

Seniman sekaligus budayawan Bobby Sandora Alatas mengunjungi Sanggar Niantanah Hewokloang (Santanah) yang berlokasi di Jalan Nusantara, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Minggu (15/9/2025).

Dalam kunjungannya, Bobby Sandora Alatas disambut meriah dengan alunan musik tradisional Gong Waning dan tarian adat Flores Maumere, yakni Tari Hegong serta Tari Tua Renta Lou.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya daerah, khususnya kebudayaan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terus dijaga oleh Sanggar Santanah yang berasal dari Maumere.

“Ini luar biasa, di luar dugaan saya. Awalnya saya pikir ini akan jadi kunjungan biasa, tapi ternyata mereka sangat siap dan penuh semangat. Anak-anak muda di sanggar ini punya bakat yang sangat istimewa, dan mereka tetap menjaga identitas budaya serta sejarah NTT, khususnya dari Maumere,” ujar Bobby kepada awak media.

Bobby juga mengungkapkan rencana mengundang Sanggar Santanah untuk tampil dalam sebuah event budaya bertajuk “Batik Kopi” yang akan digelar di Bali pada akhir Oktober 2025.

“Harapan saya satu: budaya harus terus dilestarikan. Terutama untuk anak-anak muda, karena budaya adalah jati diri bangsa. Kami akan berupaya agar sanggar ini mendapat tempat yang lebih layak agar mereka bisa terus berkarya dan berlatih dengan baik,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Sanggar Santanah, Aloysius Hieng, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Bobby Sandora Alatas dan memberikan penegasan soal pentingnya pelestarian budaya di perantauan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Bobby yang sudah meluangkan waktu datang ke sanggar kami. Mungkin kami tampil dengan segala kesederhanaan, tapi tekad kami kuat, budaya adalah identitas bangsa,” ujar Aloysius.

Ia juga menjelaskan bahwa sanggar ini lahir dari rasa tanggung jawab sebagai putra daerah NTT, khususnya Maumere, untuk tetap menjaga dan mewariskan budaya kepada generasi muda.

Terkait dengan agenda mendatang, selain diundang tampil di Bali dalam event Batik Kopi, Sanggar Santanah juga dijadwalkan tampil di Surabaya dan Pekanbaru. Bahkan, menurut Aloysius, kemungkinan besar sanggar ini juga akan tampil di Australia.

“Kami merasa terhormat mendapat undangan dari Pak Bobby. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkenalkan budaya NTT ke panggung yang lebih luas, termasuk internasional,” tutupnya.

Jakarta, JSNews – Seniman sekaligus budayawan Bobby Sandora Alatas mengunjungi Sanggar Niantanah Hewokloang (Santanah) yang berlokasi di Jalan Nusantara, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Minggu (15/9/2025).

Dalam kunjungannya, Bobby Sandora Alatas disambut meriah dengan alunan musik tradisional Gong Waning dan tarian adat Flores Maumere, yakni Tari Hegong serta Tari Tua Renta Lou.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya daerah, khususnya kebudayaan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terus dijaga oleh Sanggar Santanah yang berasal dari Maumere.

“Ini luar biasa, di luar dugaan saya. Awalnya saya pikir ini akan jadi kunjungan biasa, tapi ternyata mereka sangat siap dan penuh semangat. Anak-anak muda di sanggar ini punya bakat yang sangat istimewa, dan mereka tetap menjaga identitas budaya serta sejarah NTT, khususnya dari Maumere,” ujar Bobby kepada awak media.

Bobby juga mengungkapkan rencana mengundang Sanggar Santanah untuk tampil dalam sebuah event budaya bertajuk “Batik Kopi” yang akan digelar di Bali pada akhir Oktober 2025.

“Harapan saya satu: budaya harus terus dilestarikan. Terutama untuk anak-anak muda, karena budaya adalah jati diri bangsa. Kami akan berupaya agar sanggar ini mendapat tempat yang lebih layak agar mereka bisa terus berkarya dan berlatih dengan baik,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Sanggar Santanah, Aloysius Hieng, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Bobby Sandora Alatas dan memberikan penegasan soal pentingnya pelestarian budaya di perantauan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pak Bobby yang sudah meluangkan waktu datang ke sanggar kami. Mungkin kami tampil dengan segala kesederhanaan, tapi tekad kami kuat, budaya adalah identitas bangsa,” ujar Aloysius.

Ia juga menjelaskan bahwa sanggar ini lahir dari rasa tanggung jawab sebagai putra daerah NTT, khususnya Maumere, untuk tetap menjaga dan mewariskan budaya kepada generasi muda.

Terkait dengan agenda mendatang, selain diundang tampil di Bali dalam event Batik Kopi, Sanggar Santanah juga dijadwalkan tampil di Surabaya dan Pekanbaru. Bahkan, menurut Aloysius, kemungkinan besar sanggar ini juga akan tampil di Australia.

“Kami merasa terhormat mendapat undangan dari Pak Bobby. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkenalkan budaya NTT ke panggung yang lebih luas, termasuk internasional,” tutupnya.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.