Bekasi-JSNews (16/12/2025)
Di tengah hiruk-pikuk urbanisasi Bekasi yang tak kenal lelah, di mana gedung-gedung pencakar langit berdiri berdampingan dengan pabrik-pabrik raksasa, sebuah ritme berbeda masih bergema kuat, azan subuh yang menggema dari masjid-masjid kecil, suara murottal dari majelis taklim, dan barisan santri berjubah putih yang melangkah tegap menuju pengajian. Bekasi, kota penyangga Jakarta dengan pertumbuhan penduduk mencapai ribuan jiwa setiap tahun, menjadi saksi bagaimana industrialisasi pesat bertemu dengan keteguhan iman. Masyarakatnya yang heterogeny campuran migran dari berbagai daerah tetap mempertahankan napas religius melalui tradisi seperti tahlilan, maulid, dan marhabanan, di mana santri bukan sekadar pelajar agama, melainkan penjaga obor nilai keislaman di lautan modernitas.
Pesantren di Bekasi, dengan budaya santri yang kental akan kesederhanaan, disiplin, dan adab, menjadi benteng tak terlihat yang membentuk identitas budaya lokal. Saat santri berbaur dengan warga urban, nilai-nilai mereka meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, dari pembinaan remaja di pinggir jalan hingga pengajian keliling di perumahan elit. Namun, di balik kontribusi strategis ini sebagai agen moral, kultural, dan sosial, peran santri sering terlupakan dalam diskursus akademik yang lebih sibuk membahas urbanisasi atau budaya Betawi. Penelitian ini hadir untuk mengungkap lapisan tersebut, menawarkan wawasan komprehensif tentang bagaimana santri tidak hanya bertahan, tapi justru memperkaya kain budaya Bekasi di era perubahan yang tak terelakkan.
Santri Sebagai Penguat Tradisi Keagamaan Masyarakat Bekasi
Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa santri memiliki peran penting dalam menjaga tradisi keagamaan masyarakat Bekasi yang selama ini dikenal
dengan karakter religius dan dekat dengan tradisi Betawi-Islam. Kehadiran santri dari pesantren lokal maupun santri yang kembali ke rumah masing-masing memberikan kontribusi pada berbagai kegiatan keagamaan masyarakat, seperti pengajian rutin, tahlilan, majelis taklim, peringatan Maulid Nabi, dan marhabanan.
Budaya santri yang sarat nilai adab, kesederhanaan, serta kedisiplinan dalam ibadah menjadi teladan bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai tersebut membantu mempertahankan atmosfer religius di tengah kehidupan Bekasi yang semakin modern dan urban. Di beberapa wilayah Bekasi, santri juga berperan dalam menghidupkan tradisi membaca kitab kuning dan kegiatan pendidikan nonformal, sehingga tradisi intelektual keislaman tetap terpelihara.
Kesimpulan
Santri memiliki peran penting dalam membentuk budaya masyarakat Bekasi dengan membawa nilai-nilai religius, moral, dan tradisi pesantren ke dalam kehidupan sosial. Melalui keterlibatan dalam pengajian, pendidikan agama, kegiatan keagamaan lokal, serta keteladanan akhlak, santri turut menjaga identitas keislaman masyarakat di tengah arus urbanisasi yang pesat. Kehadiran mereka membantu mempertahankan tradisi keagamaan lokal dan memperkuat literasi keislaman di berbagai lapisan masyarakat.
Selain menjadi penjaga tradisi, santri juga berperan sebagai penghubung antara budaya lokal Bekasi dengan nilai-nilai Islam, sehingga tercipta harmoni antara adat setempat dan ajaran agama. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, santri tetap memiliki peluang besar untuk beradaptasi melalui kegiatan sosial dan pemanfaatan media digital. Secara keseluruhan, budaya santri tetap relevan dan berpengaruh dalam menjaga karakter religius serta kesinambungan budaya masyarakat Bekasi.
Penulis:
Salma Aliya Munisa
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung














